Senin, 26 Oktober 2026
Rina Saadah Menjadi Salah Satu Narasumber dalam Agenda Seminar Sumpah Pemuda yang diselenggarakan Oleh International Youth Connection
JAKARTA — Semangat Sumpah Pemuda tidak cukup berhenti pada seruan persatuan. Generasi muda juga perlu memiliki keterampilan, kesempatan, dan dukungan untuk membangun masa depan yang lebih baik, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI dan Badan Anggaran, Dr. Hj. Rina Sa’adah, Lc., M.Si., saat menjadi narasumber dalam GEN SDGs IYC: Sumpah Pemuda Edition 2026 di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Senin (26/10/2026). Mengusung tema “Generasi Beraksi: Mewujudkan SDGs melalui Kolaborasi dan Inovasi Pemuda Indonesia”, kegiatan ini diikuti sekitar 300 delegasi muda dari berbagai daerah.
Dalam paparannya, Rina mengajak pemuda melihat pembangunan berkelanjutan dari persoalan nyata di sekitar mereka, mulai dari lapangan kerja dan peluang usaha hingga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.
Salah satu perhatian yang disorot adalah regenerasi petani. Menurut materi yang disampaikannya, besarnya potensi pertanian Indonesia perlu diimbangi dengan upaya menjadikan sektor ini sebagai pilihan masa depan yang menjanjikan bagi generasi muda. Caranya bukan sekadar mengajak mereka bertani, melainkan membuka akses terhadap lahan, modal, teknologi, pendampingan, dan kepastian pasar.
Para Peserta sangat Proaktif mengikuti Diskusi bersama Rina Saadah
Peran pemuda pun tidak terbatas pada kegiatan produksi. Mereka dapat terlibat dalam pengolahan hasil panen, pemasaran digital, logistik, hingga pengembangan usaha berbasis pertanian. Pendekatan serupa juga dapat diterapkan di sektor kelautan, ekonomi kreatif, dan pengelolaan lingkungan.
Rina turut mengangkat empat ruang aksi bagi generasi muda: kedaulatan pangan, ekonomi biru, ekonomi kreatif restoratif, dan demokrasi hijau. Keempatnya menghubungkan peluang ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan serta keterlibatan masyarakat.
Untuk menerjemahkan gagasan menjadi tindakan, Rina memperkenalkan rumus 3K: Kompetensi, Kolaborasi, dan Kebijakan. Pemuda perlu membangun keterampilan yang dapat dibuktikan melalui hasil kerja, menggandeng mitra yang saling melengkapi, serta memahami kebijakan dan layanan yang mendukung kegiatan mereka.
Ia juga menawarkan rencana aksi 90 hari: 30 hari pertama untuk memetakan persoalan dan menentukan sasaran, 30 hari berikutnya untuk menjalankan proyek percontohan, dan 30 hari terakhir untuk mengevaluasi hasil, biaya, serta manfaatnya bagi masyarakat.
Menurut Rina, keberhasilan tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari perubahan yang benar-benar dihasilkan. Usaha, misalnya, perlu dinilai dari penjualan dan keuntungan; kegiatan pengurangan sampah dari jumlah yang benar-benar berhasil dikurangi; sementara penanaman perlu dilihat dari tanaman yang tumbuh dan terawat.
Dalam konteks perannya di parlemen, Rina juga menekankan pentingnya kebijakan, anggaran, dan pengawasan yang membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda, termasuk pemuda desa, perempuan muda, dan penyandang disabilitas.
Melalui dialog tersebut, semangat Sumpah Pemuda diharapkan dapat diwujudkan dalam langkah sederhana yang konsisten dan kolaboratif. Sebab, Indonesia berkelanjutan tidak hanya membutuhkan gagasan besar, tetapi juga anak muda yang memiliki kesempatan untuk berkarya serta dukungan agar karya mereka menghasilkan manfaat nyata.
#RinaSaadah#DPRRI#GenerasiBeraksi#SumpahPemuda#IndonesiaBerkelanjutan
