Rina Sa’adah di COP17: Konservasi Agenda Bersama, Masyarakat Pesisir Harus Merasakan Manfaatnya

Selasa, 20 Oktober 2026

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rina Saadah menyampaikan sambutan dalam kegiatan side event CBD COP17 yang diselenggarakan di Yerevan, Armenia.

YEREVAN, ARMENIA — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Rina Sa’adah, menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara megadiversitas perlu menempatkan konservasi sebagai agenda bersama lintas sektor. Upaya menjaga keanekaragaman hayati harus disertai pelibatan masyarakat pesisir secara bermakna serta manfaat ekonomi yang nyata bagi mereka.

Hal tersebut disampaikan Rina saat memberikan sambutan dalam side event CBD COP17 bertajuk “A Species-Based Marine Protected Area for Whale Sharks” di Yerevan, Armenia, Selasa (20/10/2026). Forum tersebut mengangkat konservasi hiu paus di Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat.

“Indonesia merupakan negara megadiversitas dengan kekayaan hayati yang luar biasa. Karena itu, konservasi harus menjadi agenda bersama. Konservasi laut membutuhkan keterlibatan lintas sektor, melampaui tugas Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan dukungan pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, dan mitra internasional,” ujar Rina.

Rina Saadah menekankan pentingnya pendekatan konservasi berbasis masyarakat pesisir

Menurutnya, keberhasilan konservasi membutuhkan keselarasan kebijakan, anggaran, dan pelaksanaan. Pengelolaan perikanan, pengembangan pariwisata, pengendalian pencemaran, serta pembangunan wilayah pesisir harus mendukung perlindungan ekosistem dan keberlanjutan penghidupan masyarakat.

Rina menekankan pentingnya pendekatan konservasi berbasis masyarakat pesisir. Pendekatan ini perlu diwujudkan melalui ruang partisipasi dalam perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan kawasan, dengan menghargai pengetahuan lokal serta kebutuhan masyarakat setempat.

“Masyarakat pesisir hidup berdampingan dengan ekosistem yang kita jaga. Mereka harus diajak berdialog, dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dan mendapatkan nilai tambah dari kegiatan konservasi. Dukungan masyarakat akan semakin kuat ketika manfaatnya dirasakan secara adil,” tegasnya.

Nilai tambah tersebut dapat dikembangkan melalui ekowisata berkelanjutan, jasa pemandu lokal, usaha perahu, homestay, kuliner, hingga produk UMKM pesisir. Rina mendorong agar peluang tersebut didukung pelatihan, akses pembiayaan, dan kemitraan yang memperkuat usaha masyarakat setempat.

Dalam konteks konservasi hiu paus, ia menekankan bahwa pengembangan wisata harus mengutamakan keselamatan satwa, perlindungan habitat, dan daya dukung kawasan. Dengan pengelolaan yang bertanggung jawab, ekowisata dapat membantu membiayai konservasi sekaligus membuka peluang penghasilan bagi masyarakat.

“Konservasi dan kesejahteraan masyarakat harus berjalan beriringan. Kita ingin kekayaan laut tetap terjaga, sementara masyarakat pesisir memiliki kesempatan untuk meningkatkan penghidupannya secara berkelanjutan,” katanya.

Rina juga mendorong penguatan kerja sama internasional dalam riset, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, pembiayaan konservasi, serta pengembangan ekowisata. Menurutnya, forum internasional perlu menghasilkan kemitraan konkret yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia dan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

“Kerja sama internasional harus memberikan dukungan nyata bagi perlindungan keanekaragaman hayati dan penguatan kapasitas masyarakat. Kita ingin kemitraan yang membantu menjaga ekosistem, mengembangkan ekowisata yang bertanggung jawab, serta memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat setempat,” tutup Rina.

#RinaSaadah#DPRRI#COP17Armenia#KerjasamaInternasional#KonservasiHiuPaus

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Custom App
Email
Custom App
Email
Youtube
Instagram